Kisah Tentang Seorang Ibu yang Kelelahan

Ini adalah sebuah kisah yang saya lihat sendiri dan disaksikan juga oleh orang lain yang dekat dengan saya.


Seorang ibu, yang menikah di usia sangat muda karena memang seperti itulah adanya budaya di kampungnya, jika perempuan sudah usia belasan (setidaknya 15 tahun) harus segera menikah agar tidak jadi perawan tua.


Lalu seorang ibu ini menikah dengan laki-laki yang dikehendaki olehNya. Berselang belasan tahun setelah hari H pernikahan, semua anaknya sudah lahir ke dunia. Anak-anaknya saat itu masih kecil untuk mengerti urusan orang dewasa, namun yang paling sering diingat oleh anak-anaknya adalah orang tuanya sering bertengkar.


Sampai suatu ketika, suami dari sang ibu ketahuan mendua, bahkan punya anak dari hasil hubungan yang menyakitkan tersebut. Salah satu anaknya masih belum bisa memaafkan hal tersebut dan merasa patah hati sekali. 


Alih-alih putus asa, sang ibu tampaknya tidaj gentar dan harus menahan semuanya. Perpisahan akhirnya hanya sekedar wacana dan sifat suami sang ibu tidak semakin membaik juga.


Tahun berselang, ada lagi yang harus disaksikan si anak dari kepedihan sang ibu. Si anak sakit hati sekali saat sang ayah malah sering memarahi dan tidak membantu sama sekali saat sang ibu berjuang sembuh dari penyakit yang menyerang organ dalamnya. Kemungkinan besar penyebabnya dari stres dan pola makan tidak teratur. Sang ibu hanya bisa pasrah dan tetap berjuang sendirian agar bisa sembuh. Saat itu si anak belum berdaya untuk membela apalagi membantu kesembuhan ibu karena semua anaknya saat itu belum berpenghasilan. Sang ibu hanya seorang ibu rumah tangga yang kesibukannya jauh berkali lipat lebih lelah dibandingkan sang ayah. Lelah fisik dan juga lelah batin. 


Si anak sangat membenci hal tersebut bahkan hingga sekarang, si anak sangat pedih hatinya kalau ingat hal tersebut. Rasa-rasanya, sang ibu sudah memberikan jauh lebih banyak energi dan pengorbanan untuk keluarga dibandingkan sang ayah yang bahkan sering merendahkan anak-anaknya juga hingga anaknya tidak ada yang menyukai sang ayah.


Sang anak sedih, sang anak hanya bisa berdoa agar sang ibu bisa mendapatkan rezeki berlimpah dan syurga di tempat istirahat terakhirnya nanti. Sang anak takut sekali jika kelak punya pasangan yang tidak sabar dan pengertian. Tapi semoga semuanya bisa membaik dan terus membaik.


Si anak mulai merasa bahwa, dunia memang kejam seperti apa adanya sejak dahulu kala. Kini, si anak ingin sekali bisa terus membahagiakan sang ibu meskipun si anak harus berkorban dengan apapun, bahkan jika harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri. 

Tidak ada komentar