Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tidak Ada Kisah Romantis di Bandung





Saya terlahir di Bandung, kota asal Bapak yg kemudian menjadi tempat tinggal kami sekeluarga. Bandung pada awalnya kota yang biasa saja sebagaimana yang Saya rasakan dulu, karena di masa-masa masih muda, Saya cuma sibuk gimana caranya menjalani hari-hari di sekolah dan pulang lagi ke rumah tanpa takut mendengar lagi keributan yang dibuat oleh kedua orang tua. Saat itu Saya masih remaja tanggung, tidak mengerti apa yang diributkan orang tua sehingga saya memutuskan untuk tidur2an di kamar atau mengerjakan PR.
Gak taunya, kebiasaan belajar dan mengerjakan PR ini malah membuatku jadi salah satu anak (cukup) berprestasi di sekolah, karena kerajinanku tentunya bukan karena kejeniusanku, karena seingatku sejak masuk sekolah dasar saya sangat pemalas orangnya.

Sampai suatu ketika saat SMA, masa putih abu-abu yang awalnya agak takut aku hadapi, tidak seperti opini teman2 saya yg bilang bahwa mereka tidak sabar memasuki masa SMA yang katanya masa paling indah, apalagi ku baca dari beberapa literatur sastra bahwa Bandung adalah kota romantis dengan segala gombalan sastrawan yang mengagungkan kota bandung sebagai tempat penuh kenangan indah. Sampai2 saat hari-hari pertama saya masuk SMA, kakak pertama saya berkali-kali bersenda gurau sambil bilang : "ciee SMA.. Perasaan dulu masih SD  deh!!"
Saat itu saya gak peduli karena saya pikir.. Apanya yang mesti di ciee-in??

Saat SMA saya tak berani pacaran karena.. Yah lawan jenis yang saya temui di angkot aja pada melihat mata saya dengan tatapan meringis, kadang kasian atau seringkali kaget dicampur ekspresi lainnya yang tidak saya mengerti, tapi kemudian saya tangkap sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, dan saya mengalami itu setiap hari sejak masa kanak-kanak di kota Bandung yang menurut saya bukan kota yang ramah, tidak seperti kota Jakarta yang justru ramah-ramah dan tidak punya tatapan judgmental.
Saat SMA, saya cukup tau diri sehingga sangat menutup diri bahkan mungkin hingga sekarang.
Kini, saya beranjak dewasa dan sedang semangat2nya meniti karir, walau kata orang2 gak nyambung sama jurusan kuliah yang diambil, tapi siapa peduli? Daripada pengangguran?

Ntah bagaimana, saya mendapat pekerjaan di Jakarta dan kini kantor saya harua pindah ke daerah Tangsel. Kedua kota itu cukup memiliki perbedaan yang menonjol, tapi yang jelas aku bersyukur karena aku bukan berada di Bandung lagi.
Percaya tidak percaya, aku begitu nyaman hidup dengan orang2 di jakarta dan sekitarnya. Mungkin karena disini org2 tidak punya waktu luang untuk ikut campur urusan orang atau sekedar memberikan tatapan meringis seperti yg sering saya alami ketika di bandung. Mungkin Jakarta adalah kota yang keras, tapi orang2nya lembut hatinya dan setidaknya memberikan saya kenyamanan.

Bandung, katanya kamu adalah kota yang romantis tapi sayangnya saya sakit hati sama kamu. Selama tumbuh berkembang disana, kamu selalu memberi kenangan buruk, yang saya ceritakan diatas baru salah satunya saja.

Bandung, katanya kamu adalah kota yang penuh kenangan indah, tapi tampaknya saya bukan pemuda beruntung yang bisa mengalami segala keindahan dan keromantisan bahkan di rumah sendiri yang hampir tidak kutemukan kehangatan di dalamnya.

Bandung, terima kasih sudah menjadi tempat saya mengalami banyak hal, yang tentu saja tidak semuanya hal yang bahagia karena hidup dimanapun sama saja, tapi maaf jika harus saya katakan, saya lebih bahagia saat menjauh dari Bandung, bahkan mungkin nanti tempat tinggal saya jaraknya akan lebih jauh lagi dari kota Bandung.

Bandung, kamu tidak jahat ataupun kurang memiliki empati, jangan salah paham dulu.. Saya hanya sedih mengapa kota kelahiran saya harus kamu? Mengapa tidak Jakarta saja, lalu saat sudah besar saya mendapat pekerjaan di Bandung kemudian saya akan berkata : saya lebih menyukai bandung daripada jakarta.

Bandung, kamu tetap akan menjadi salah satu kota favorit saya, tapi tidak dengan orang-orangnya. 

Posting Komentar untuk "Tidak Ada Kisah Romantis di Bandung "